Design Concept


LAPORAN KONSEP DESIGN FILM
HOPE OF CULTURE

Disusun untuk memenuhi Tugas Mata Kuliah Teknik Komunikasi
TKP 158


Disusun Oleh:
Kelompok 8
Kelas B

Afrizal Novan 
21040110130080
Arif Su'udi
21040110141076
Deanissa Ratih A.
21040110120060
Retno Setyaningsih
21040110141080
Laella Nuzullia
21040110141042
Raisya Nursyahbani
21040110141008
Mukhammad Arief
21040110130072
Nur Sukma Suri
21040110110050



JURUSAN PERENCANAAN WILAYAH DAN KOTA
FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS DIPONEGORO
SEMARANG
2011


__________________________________________________________________________________


BAB I
PENDAHULUAN

  1. Latar Belakang
                Komunikasi adalah proses penyampaian suatu pernyataan yang dilakukan oleh seseorang kepada orang lain sebagai konsekuensi dari hubungan sosial. Komunikasi berlangsung apabila antara orang-orang yang terlibat terdapat kesamaan makna mengenai suatu hal yang dikomunikasikan.
                Dalam jurusan perencanaan wilayah dan kota, fakultas teknik, universitas diponegoro terdapat mata kuliah teknik komunikasi. Mata kuliah ini membahas prinsip, metode dan praktek komunikasi yang diperlukan oleh seorang perencana. Komunikasi menurut beberapa pakar perencanaan dianggap sebagai salah satu kompetensi dasar yang harus dimiliki oleh seorang perencana, di samping penguasaan terhadap teori, metode analisis dan kemampuan pengambilan keputusan serta penilaian (etika).
                Media sangat diperlukan dalam berkomunikasi. Media yang dimaksud dalam hal ini adalah media komunikasi. Contoh media komunikasi adalah film (audio visual). Media komunikasi ini mempunyai pengaruh yang cukup besar bagi masyarakat. Media komunikasi juga memiliki peranan penting dalam membentuk sikap mental masyarakat.
                Dalam mata kuliah teknik komunikasi, mahasiswa diberikan tugas besar secara berkelompok berupa pembuatan film, poster, website, dan buku laporan konsep design. Hasil dari karya-karya tersebut kemudian akan dipresentasikan pada akhir masa perkuliahan.
                Tema tugas besar yang diambil oleh kelompok kami adalah Wisata dan Budaya Nusantara. Tujuan dari pembuatan film ini adalah untuk memperkenalkan potensi-potensi budaya yang terdapat di wilayah Indonesia, khususnya kota Semarang dan kota Solo.

  1. Tujuan dan Sasaran
1.       Tujuan
    1. Tujuan dari pembuatan film ini adalah pengenalan wisata dan budaya yang berada pada kawasan – kawasan yang telah dipilih dan dapat dijabarkan sebagai berikut:
b.      Memahami yang dimaksud sebagai wisata dan budaya nusantara.
c.       Mengetahui berbagai dampak yang ditimbulkan dengan pelestarian wisata dan budaya nusantara.
d.      Menghimbau untuk menjaga dan melestarikan wisata dan budaya nusantara.

  1. Sasaran
Untuk mewujudkan tujuan di atas, sasaran yang perlu dilakukan adalah sebagai berikut.
a.    Mencari  dan mengumpulkan berbagai informasi wisata dan budaya nusantara melalui berbagai media, baik media cetak maupun media elektronik.
b.    Melakukan survey atau pengamatan langsung ke kawasan yang melaksanakan pelestarian wisata dan budaya nusantara di kawasan yang telah dipilih.
c.     Mengolah dan menyajikan data dengan menggunakan berbagai perangkat lunak yang mendukung pembuatan tugas besar ini.
d.    Mengekspresikan hasil pengamatan dalam bentuk produk akhir berupa film.
e.    Mengkomunikasikan produk akhir yang merupakan hasil pemikiran dari pengamatan dan analisis yang dilakukan agar dapat memberikan kesan bagi orang lain.
  1. Ruang Lingkup
Ruang lingkup materi dari penyususnan laporan ini adalah sebagai berikut.
a.    Gambaran mengenai pelestarian wisata dan budaya nusantara di kawasan-kawasan pelestarian budaya yang telah dipilih.
b.    Langkah kerja pembuatan film.

____________________________________________________________________________

BAB II
KAJIAN TEORI

  1. Teori Dasar
                Film mempunyai banyak pengertian yang masing-masing artinya dapat dijabarkan secara luas. Film merupakan media komunikasi sosial yang terbentuk dari penggabungan dua indra, penglihatan dan pendengaran, yang mempunyai inti atau tema sebuah cerita yang banyak mengungapkan realita sosial yang terjadi di sekitar lingkungan tempat dimana film itu sendiri tumbuh. Film sendiri dapat juga berarti sebuah industri, yang mengutamakan eksistensi dan ketertarikan cerita yang dapat mengajak banyak orang terlibat. Film berbeda dengan cerita buku, atau cerita sinetron. Walaupun sama-sama mengangkat nilai esensial dari sebuah cerita, film mempunyai asas sendiri. Selain asas ekonomi bila dilihat dari kacamata industri, asas yang membedakan film dengan cerita lainnya adalah asas sinematografi. Asas sinematografi tidak dapat digabungkan dengan asas-asas lainnya karena asas ini berkaitan dengan pembuatan film.
                Sedangkan definisi Film Menurut UU 8/1992, adalah karya cipta seni dan budaya yang merupakan media komunikasi massa pandang-dengar yang dibuat berdasarkan asas sinematografi dengan direkam pada pita seluloid, pita video, piringan video, dan/atau bahan hasil penemuan teknologi lainnya dalam segala bentuk, jenis, dan ukuran melalui proses kimiawi, proses elektronik, atau proses lainnya, dengan atau tanpa suara, yang dapat dipertunjukkan dan/atau ditayangkan dengan sistem Proyeksi mekanik, eletronik, dan/atau lainnya;
                Namun sejalan dengan perkembangan media penyimpan dalam bidang sinematografi, maka pengertian film telah bergeser. Sebuah film  cerita dapat  diproduksi tanpa menggunakan selluloid (media film). Bahkan saat ini sudah semakin sedikit film yang menggunakan media selluloid pada tahap pengambilan gambar. Pada tahap pasca produksi gambar yang telah diedit dari media analog maupun digital dapat disimpan pada media yang fleksibel. Hasil akhir karya sinematografi dapat disimpan Pada media selluloid, analog maupun digital.
                Perkembangan teknologi media penyimpan ini telah mengubah pengertian film dari istilah yang mengacu pada bahan ke istilah yang mengacu pada bentuk karya seni audio-visual. Singkatnya film kini diartikan sebagai suatu genre (cabang) seni yang menggunakan audio (suara) dan visual (gambar) sebagai medianya.Istilah film pada mulanya mengacu pada suatu media sejenis plastik yang dilapisi dengan zat peka cahaya. Media peka cahaya ini sering disebut selluloid. Dalam bidang fotografi film ini menjadi media yang dominan digunakan untuk menyimpan pantulan cahaya yang tertangkap lensa.
                Tahap produksi film dapat dibagi menjadi 3 tahap, yaitu:
1.       Tahap Pra Produksi
    1. Analisis Ide Cerita
                                 Sebelum membuat cerita film, kita harus menentukan tujuan pembuatan film. Hanya sebagai hiburan, mengangkat fenomena, pembelajaran/pendidikan, dokumenter, ataukah menyampaikan pesan moral tertentu. Hal ini sangat perlu agar pembuatan film lebih terfokus, terarah dan sesuai. Jika tujuan telah ditentukan maka semua detail cerita dan pembuatan film akan terlihat dan lebih mudah. Jika perlu diadakan observasi dan pengumpulan data dan faktanya. Bisa dengan membaca buku, artikel atau bertanya langsung kepada sumbernya.
                                 Ide film dapat diperoleh dari berbagai macam sumber antara lain:
1)      Pengalaman pribadi penulis yang menghebohkan.
2)      Percakapan atau aktifitas sehari-hari yang menarik untuk difilmkan.
3)      Cerita rakyat atau dongeng.
4)      Biografi seorang terkenal atau berjasa.
5)      Adaptasi dari cerita di komik, cerpen, atau novel.
6)      Dari kajian musik, dll
    1. Menyiapkan Naskah
                                Jika penulis naskah sulit mengarang suatu cerita, maka dapat mengambil cerita dari cerpen, novel ataupun film yang sudah ada dengan diberi adaptasi yang lain. Setelah naskah disusun maka perlu diadakan Breakdown naskah. Breakdown naskah dilakukan untuk mempelajari rincian cerita yang akan dibuat film.
    1. Menyusun Jadwal dan Budgeting
                                Jadwal atau working schedule disusun secara rinci dan detail, kapan, siapa saja , biaya dan peralatan apa saja yang diperlukan, dimana serta batas waktunya. Termasuk jadwal pengambilan gambar juga, scene dan shot keberapa yang harus diambil kapan dan dimana serta artisnya siapa. Lokasi sangat menentukan jadwal pengambilan gambar.
                                Hal-hal yang perlu diperhatikan saat menyusun alokasi biaya:
1)      Penggandaan naskah skenario film untuk kru dan pemain.
2)      Penyediaan kaset video.
3)      Penyediaan CD blank sejumlah yang diinginkan.
4)      Penyediaan property, kostum, make-up.
5)      Konsumsi.
6)      Akomodasi dan transportasi.
7)      Menyewa alat jika tidak tersedia.
    1. Hunting Lokasi
                                Memilih dan mencari lokasi/setting pengambilan gambar sesuai naskah. Untuk pengambilan gambar di tempat umum biasanya memerlukan surat ijin tertentu. Akan sangat mengganggu jalannya shooting jika tiba-tiba diusir dipertengahan pengambilan gambar karena tidak memiliki ijin (dan saya mengalaminya.. hehe).
                                Dalam hunting lokasi perlu diperhatikan berbagai resiko seperti akomodasi, transportasi, keamanan saat shooting, tersedianya sumber listrik, dll. Setting yang telah ditentukan skenario harus betul-betul layak dan tidak menyulitkan pada saat produksi. Jika biaya produksi kecil, maka tidak perlu tempat yang jauh dan memakan banyak biaya.
    1. Menyiapkan Kostum dan Properti
                                Memilih dan mencari pakaian yang akan dikenakan tokoh cerita beserta propertinya. Kostum dapat diperoleh dengan mendatangkan desainer khusus ataupun cukup membeli atau menyewa namun disesuaikan dengan cerita skenario. Kelengkapan produksi menjadi tanggung jawab tim property dan artistik.
    1. Menyiapkan Peralatan
                                Untuk mendapatkan hasil film/video yang baik maka diperlukan peralatan yang lengkap dan berkualitas. Peralatan yang diperlukan (dalam film minimalis) :
1)      Clipboard.
2)      Proyektor.
3)      Lampu.
4)      Kabel Roll.
5)      TV Monitor.
6)      Kamera video S-VHS atau Handycam.
7)      Pita/Tape.
8)      Mikrophone clip-on wireless.
9)      Tripod Kamera.
10)   Tripod Lampu.

    1. Casting Pemain
                                Memilih dan mencari pemain yang memerankan tokoh dalam cerita film. Dapat dipilih langsung ataupun dicasting terlebih dahulu. Casting dapat diumumkan secara luas atau cukup diberitahu lewat rekan-rekan saja. Pemilihan pemain selain diperhatikan dari segi kemampuannya juga dari segi budget/pembiayaan yang dimiliki.
2.       Tahap Produksi
a.       Tata Setting
                Set construction merupakan bagunan latar belakang untuk keperluan pengambilan gambar. Setting tidak selalu berbentuk bangunan dekorasi tetapi lebih menekankan bagaimana membuat suasana ruang mendukung dan mempertegas latar peristiwa sehingga mengantarkan alur cerita secara menarik.
b.      Tata Suara
                Untuk menghasilkan suara yang baik maka diperlukan jenis mikrofon yang tepat dan berkualitas. Jenis mirofon yang digunakan adalah yang mudah dibawa, peka terhadap sumber suara, dan mampu meredam noise (gangguan suara) di dalam dan di luar ruangan.
c.       Tata Cahaya
                Penataan cahaya dalam produksi film sangat menentukan bagus tidaknya keualitas teknik film tersebut. Seperti fotografi, film juga dapat diibaratkan melukis dengan menggunakan cahaya. Jika tidak ada cahaya sedikitpun maka kamera tidak akan dapat merekam objek.
                Penataan cahaya dengan menggunakan kamera video cukup memperhatikan perbandingan Hi light (bagian ruang yang paling terang) dan shade (bagian yang tergelap) agar tidak terlalu tinggi atau biasa disebut hight contrast. Sebagai contoh jika pengambilan gambar dengan latar belakang lebih terang dibandingkan dengan artist yang sedang melakukan acting, kita dapat gunakan reflektor untuk menambah cahaya.
                Reflektor dapat dibuat sendiri dengan menggunakan styrofoam atau aluminium foil yang ditempelkan di karton tebal atau triplek, dan ukurannya disesuaikan dengan kebutuhan.
                Perlu diperhatikan karakteristik tata cahaya dalam kaitannya dengan kamera yang digunakan. Lebih baik sesuai ketentuan buku petunjuk kamera minimal lighting yang disarankan. Jika melebihi batasan atau dipaksakan maka gambar akan terihat seperti pecah dan tampak titik-titik yang menandakan cahaya under.
                Perlu diperhatikan juga tentang standart warna pencahayaan film yang dibuat yang disebut white balance. Disebut white balance karena memang untuk mencari standar warna putih di dalam atau di luar
d.      Tata Kostum (Wardrobe)
                Pakaian yang dikenakan pemain disesuaikan dengan isi cerita. Pengambilan gambar dapat dilakukan tidak sesuai nomor urut adegan, dapat meloncat dari scene satu ke yang lain. Hal ini dilakukan agar lebih mudah, yaitu dengan mengambil seluruh shot yang terjadi pada lokasi yang sama.
                Oleh karenanya sangat perlu mengidentifikasi kostum pemain. Jangan sampai adegan yang terjadi berurutan mengalami pergantian kostum. Untuk mengantisipasinya maka sebelum pengambilan gambar dimulai para pemain difoto dengan kamera digital terlebih dahulu atau dicatat kostum apa yang dipakai. Tatanan rambut, riasan, kostum dan asesoris yang dikenakan dapat dilihat pada hasil foto dan berguna untuk shot selanjutnya.
e.      Tata Rias
                Tata rias pada produksi film berpatokan pada skenario. Tidak hanya pada wajah tetapi juga pada seluruh anggota badan. Tidak membuat untuk lebih cantik atau tampan tetapi lebih ditekankan pada karakter tokoh. Jadi unsur manipulasi sangat berperan pada teknik tata rias, disesuaikan pula bagaimana efeknya pada saat pengambilan gambar dengan kamera. Membuat tampak tua, tampak sakit, tampak jahat/baik, dll.
3.       Tahap Pasca Produksi
a.       Proses Editing
                                Secara sederhana, proses editing merupakan usaha merapikan dan membuat sebuah tayangan film menjadi lebih berguna dan enak ditonton. Dalam kegiatan ini seorang editor akan merekonstruksi potongan-potongan gambar yang diambil oleh juru kamera. Tugas editor antara lain sebagai berikut:
1)      Menganalisis skenario bersama sutradara dan juru kamera mengenai kontruksi dramatinya.
2)      Melakukan pemilihan shot yang terpakai (OK) dan yang tidak (NG) sesuai shooting report.
3)      Menyiapkan bahan gambar dan menyusun daftar gambar yang memerlukan efek suara.
4)      Berkonsultasi dengan sutradara atas hasil editingnya.
5)      Bertanggung jawab sepenuhnya atas keselamatan semua materi gambar dan suara yang diserahkan kepadanya untuk keperluan editing.
b.      Review Hasil Editing
                Setelah film selesai diproduksi maka kegiatan selanjutnya adalah pemutaran film tersebut secara intern. Alat untuk pemutaran film dapat bermacam-macam, dapat menggunakan VCD/DVD player dengan monitor TV, ataupun dengan PC (CD-ROM) yang diproyeksikan dengan menggunakan LCD (Light Computer Display).               Pemutaran intern ini berguna untuk review hasil editing. Jika ternyata terdapat kekurangan atau penyimpangan dari skenario maka dapat segera diperbaiki. Bagaimanapun juga editor juga manusia biasa yang pasti tidak luput dari kelalaian. Maka kegiatan review ini sangat membantu tercapainya kesempurnaan hasil akhir suatu film.
  1. Media Peralatan dan Software yang Dibutuhkan
1.         Media Peralatan
       Peralatan yang digunakan dalam proses pembuatan poster, website, film dan laporan ini antara lain:
a.         Transportasi
Transportasi yang digunakan untuk menuju lokasi pengambilan gambar adalah sepeda motor dan mobil.
b.        Kamera Digital
Kamera digital digunakan untuk mengambil gambar yang dipergunakan dalam film dan poster.
c.         Handycam
Handycam digunakan untuk pengambilan gambar film.
d.        Komputer
Komputer digunakan untuk proses pembuatan tugas besar yang meliputi pembuatan skenario film, pembuatan poster, pembuatan website dan editing film.
e.        Printer
Printer digunakan sebagai pencetakan skenario, laporan dan poster.
2.         Software
Software yang digunakan antara lain:
a.       Microsoft Office Word 2007
Aplikasi ini digunakan sebagai penunjang dalam pembuatan naskah skenario dan laporan skenario.
b.      Corel Draw X3
Aplikasi ini digunakan dalam pembuatan poster.
c.       VegasPro
Aplikasi ini digunakan untuk proses editing film.
d.      Adobe Photoshop CS 3
Aplikasi ini digunakan untuk proses editing gambar dalam pembuatan poster.
e.      Microsoft Office Powerpoint 2007
Aplikasi ini digunakan untuk membuat slide presentasi tugas besar.
f.        Nero Start Smart
Aplikasi ini diguanakn untuk membakar CD sebagai media penyimpanan tugas besar berupa soft copy film.


____________________________________________________________________________
BAB III
RANCANGAN SKENARIO FILM

  1. Bentuk Skenario
                Bentuk Skenario film ini adalah naratif. Adegan – adegan dalam film ini dilengkapi  dialog dan diperankan oleh masing – masing tokoh dari awal sampai akhir cerita sesuai dengan tema yang telah dipilih oleh kelompok kami.
  1. Penulisan Naskah
1.       Target pemirsa dan tujuan pembuatan film
        Pembuatan film ini memiliki tujuan menyampaikan kepada pemirsa mengenai kondisi wisata budaya Nusantara yang masih dilestarikan dan membaur di dalam kehidupan masyarakat modern, dalam rangka memberikan refrensi akulturasi budaya di Indonesia.
2.       Tema dan ide pokok
        Tema dari film ini adalah Wisata Budaya Nusantara, sedangkan ide pokok dari film adalah Studi Corak Budaya Antara Solo – Semarang.
3.       Pembuatan Sinopsis
        Retno adalah seorang mahasiswa semester akhir di Universitas Jakarta Jurusan kebudayaan. Dia melakukan survei tugas akhir ke Semarang bersama dua orang temannya, Sukma dan Su’ud. Dia ingin mengambil tugas akhir dengan tema kebudayaan Jawa Tengah. Di Semarang mereka bertemu Nofan, Raisya, dan Lia, mahasiswa Semarang. Namun setelah berbincang – bincang dengan mahasiswa Semarang ternyata kebudayaan disana sudah tidak kental lagi karena tersampingkan oleh perkembangan globalisasi.
        Akhirnya dengan bantuan mahasiswa Semarang, mereka datang ke Solo yang perkembangan kotanya masih erat dengan kebudayaan. Di Solo dengan dipandu oleh kenalan Nofan, yaitu Dea dan Arief, mereka menemukan kebudayaan yang mereka cari. Mulai dari wayang, tarian, kreasi batik yang asli kebudayaan Indonesia. Mereka mencoba mengenal dan mendalami kebudayaan – kebudayaan tersebut. Sampai akhirnya Retno menemukan materi yang dia butuhkan untuk tugas akhirnya. Selesai tugas akhirnya dibuat, Retno menghadapi sidang tugas akhirnya.



4.       Pemilihan Genre
        Genre memberikan dasar tentang bagaimana suatu karya seni itu akan dibuat. Disebut juga sebagai suatu kategorisasi tanpa batas-batas yang jelas. Untuk film ini, kami memilih genre dokudrama yang merupakan spesifikasi dari dokumenter.
5.       Pemberian Log-line
        Logline adalah sebuah kalimat singkat yang memberi gambaran secara sederhana mengenai keseluruhan isi dari sebuah film. Biasanya logline merupakan kalimat yang dijadikan identitas suatu film. Logline yang kami tampilkan dalam film kami adalah “Saat kebudayaan memberikan harapan”.
  1. Isi Naskah



____________________________________________________________________________

BAB IV
RANCANGAN POSTER (X-BANNER)

  1. Konsep Poster (X-Banner)










  1. Desain Poster (X-Banner)